Jembatan yang Tumbuh dari Akar
Hutan tidak pernah benar-benar diam. Bahkan ketika angin berhenti dan hujan menahan diri, selalu ada suara yang bekerja pelan—getaran akar yang mencari air, serangga yang menyusun malam, dan daun yang belajar jatuh tanpa melukai siapa pun.
Di jantung Kalimantan, ada hutan tua yang dulu menyambung tanpa jeda. Pohon-pohon berdiri seperti kalimat panjang yang tidak pernah putus. Dari atas kanopi, dunia terlihat hijau dan utuh—tempat bergelantungan bukan pilihan, melainkan bahasa sehari-hari.
Di sanalah hidup bangsa orangutan.
Bagi orangutan, tanah bukan rumah. Tanah adalah tempat singgah yang berisiko. Rumah sesungguhnya ada di atas—di dahan, di cabang, di jembatan alami yang dibangun dari pohon ke pohon. Orangutan hidup dengan ingatan arah yang rumit: mereka tahu pohon mana berbuah di musim apa, jalur mana aman untuk ibu dan anak, dan kapan harus berhenti untuk menunggu.
Namun suatu hari, kalimat panjang hutan itu terpotong.
Jalan datang. Kebun datang. Suara mesin datang. Pohon-pohon jatuh dengan bunyi yang membuat burung-burung salah membaca musim. Dan di antara potongan-potongan hutan, tercipta ruang kosong yang tidak bisa diseberangi oleh ingatan lama.
Orangutan menyebut ruang itu Tanah Terbuka—bukan karena tanahnya salah, melainkan karena ia tidak memberi pegangan.
Di tepi salah satu potongan hutan, tinggal seekor orangutan betina tua bernama Rimba. Bulu jingganya kusam, lengannya panjang dan penuh bekas gesek, matanya tenang seperti air yang sudah melihat banyak hujan.
Rimba adalah penyimpan ingatan. Ia tahu rute lama. Ia tahu pohon ara yang dulu selalu menunggu. Ia tahu cabang mana yang pernah runtuh dan mana yang aman.
Namun ingatan Rimba kini berhenti di tepi kosong.
Di seberang Tanah Terbuka, terlihat hutan lain—lebih muda, lebih jarang, tapi tetap hutan. Di sana, pohon-pohon berbuah lain menunggu musimnya. Tapi tidak ada jembatan.
“Dulu kita tidak pernah berhenti di sini,” gumam Rimba suatu sore, ketika matahari miring dan panas turun ke tanah. “Dulu, ini cuma langkah.”
Di dekatnya, seekor orangutan muda bernama Laga mengintip ke bawah. Laga belum pernah menyeberang. Ia lahir setelah jalan datang. Bagi Laga, Tanah Terbuka bukan potongan cerita, melainkan tembok.
“Kenapa kita tidak turun saja?” tanya Laga polos. “Tanah itu kosong.”
Rimba menggeleng. “Kosong bukan berarti aman.”
Laga tidak paham. Ia belum pernah melihat konflik. Ia belum pernah mendengar teriakan manusia yang panik melihat bayangan besar turun dari pohon. Ia belum pernah merasakan sengatan benda yang tidak berasal dari hutan.
Namun hutan tidak bisa hidup hanya dari ingatan lama. Anak-anak perlu jalan baru.
Suatu pagi, sesuatu yang berbeda terjadi.
Bukan mesin. Bukan gergaji. Bukan bau asap.
Yang datang adalah manusia dengan niat pelan.
Mereka tidak menebang. Mereka mengukur. Mereka menancapkan tongkat kecil di tanah, menandai titik-titik seperti sedang menggambar di udara. Mereka berbicara pelan, menunjuk pohon yang masih berdiri, dan—yang paling aneh—mereka menanam.
Bukan menanam kebun rapih, melainkan menanam pohon-pohon yang tumbuh cepat, berdaun lebar, dan suka merangkul udara.
Rimba memperhatikan dari kejauhan.
“Manusia tidak pernah menanam untuk kita,” kata Rimba pada dirinya sendiri.
Namun hari demi hari, pohon-pohon muda itu tumbuh. Tidak tinggi, tapi cukup. Tidak kuat, tapi bertambah. Dan pola tanamnya tidak acak. Ia mengikuti arah yang aneh—seperti garis yang ingin menghubungkan dua kalimat yang terpisah.
Di hutan seberang, orangutan lain juga memperhatikan.
Seekor jantan besar bernama Tara berdiri di dahan tinggi, lengannya menggantung, suaranya berat ketika ia memanggil. “Ada apa di sana?”
Rimba menjawab dari kejauhan—bukan dengan kata, tapi dengan getaran suara yang berarti: sesuatu sedang dibangun.
Hari berganti minggu. Minggu jadi bulan. Pohon-pohon muda makin tinggi. Liana mulai menjalar. Burung kembali bernyanyi di titik-titik yang dulu sunyi.
Manusia-manusia itu tidak datang setiap hari. Mereka datang, pergi, kembali. Kadang membawa air. Kadang membawa bibit. Kadang hanya berdiri, melihat, lalu pergi lagi.
Orangutan menyebut jalur baru itu Jalur Akar.
“Ini bukan hutan,” kata Laga ragu. “Ini cuma barisan pohon.”
Rimba menjawab, “Semua hutan pernah cuma barisan pohon.”
Musim hujan datang lebih berat dari biasanya. Tanah Terbuka berlumpur. Air mengalir cepat, membuat jalur manusia licin. Namun Jalur Akar justru bertahan—akar-akar muda saling mengikat tanah, menahan longsor kecil yang biasanya terjadi.
Burung-burung mulai memakai Jalur Akar sebagai tempat singgah. Tupai mencoba melompat di cabang-cabang muda. Seekor kukang tidur siang di sana, seolah menguji apakah tempat itu pantas disebut rumah.
Rimba memperhatikan semua itu dengan mata yang jarang berkedip.
“Manusia ini berbeda,” katanya pelan. “Mereka tidak memaksa. Mereka membiarkan tumbuh.”
Laga menatap ke bawah, lalu ke depan. “Apakah itu cukup?”
Rimba tidak menjawab cepat. “Cukup itu bukan ukuran. Cukup itu proses.”
Namun tidak semua setuju.
Di sisi Tanah Terbuka, ada manusia lain yang resah. Mereka melihat pohon-pohon tumbuh dan bertanya, “Untuk apa ini?” Mereka khawatir hutan mendekat ke kebun. Mereka takut bayangan besar turun ke ladang.
Suatu hari, suara mesin kembali terdengar—bukan di Jalur Akar, tapi di ujungnya. Sebatang pohon muda roboh.
Laga panik. “Mereka merusaknya!”
Rimba menahan Laga. “Tunggu.”
Benar saja, manusia dengan niat pelan datang lagi. Mereka berdiri di depan pohon yang tumbang. Mereka berbicara lama. Mereka memasang penanda baru, memindahkan sedikit jalur, menanam ulang.
Jalur Akar berubah bentuk—sedikit berbelok, sedikit mundur, tapi tidak hilang.
Rimba mengangguk. “Mereka sedang bernegosiasi.”
“Dengan siapa?” tanya Laga.
“Dengan dunia,” jawab Rimba.
Tahun berlalu. Jalur Akar kini cukup tinggi untuk dilewati tanpa turun. Tidak semua bagian siap, tapi beberapa sudah bisa dijadikan pijakan.
Rimba berdiri di tepi Jalur Akar, menatap seberang. Tara terlihat lebih dekat sekarang, tidak lagi sekadar bayangan.
Laga berdiri di samping Rimba, napasnya cepat. “Apakah kita akan menyeberang?”
Rimba menutup mata sebentar, mendengarkan hutan. Ia mendengar suara serangga yang kembali. Ia mencium bau buah yang matang di hutan seberang. Ia merasakan getaran yang sama seperti dulu—sebelum jalan datang.
“Kita akan mencoba,” kata Rimba.
Langkah pertama tidak besar. Rimba meraih dahan muda dengan hati-hati. Dahan itu bergoyang, tapi tidak patah. Ia memindahkan berat badannya perlahan. Satu tangan, lalu kaki, lalu tangan lagi.
Jalur Akar bergoyang seperti napas yang belum stabil.
Laga menahan napas.
Rimba bergerak satu pohon. Dua pohon. Tiga.
Ia berhenti, menunggu. Tidak memaksa.
Laga mengikuti—lebih cepat, lebih gugup. Dahan muda berderit, tapi akar-akar di bawah menahan.
Di tengah Jalur Akar, Rimba berhenti lama. Ia menatap ke bawah—Tanah Terbuka masih ada. Ia menatap ke depan—hutan seberang makin jelas.
“Kita tidak kembali ke masa lalu,” kata Rimba. “Kita membuat masa depan.”
Mereka melanjutkan.
Di seberang, Tara menyambut dengan suara rendah yang berarti: selamat datang.
Itu bukan perpindahan besar. Itu hanya dua orangutan menyeberang. Tapi hutan tahu: ini awal.
Berita menyebar di antara penghuni hutan. Orangutan lain mencoba. Ada yang berhasil. Ada yang kembali karena takut. Ada yang menunggu lebih lama sampai dahan makin kuat.
Manusia dengan niat pelan memperhatikan dari jauh. Mereka mencatat, memperbaiki titik lemah, menanam lebih banyak pohon di bagian yang sering goyah.
Jalur Akar tidak pernah jadi jembatan lurus. Ia berkelok, menyesuaikan tanah, menghindari konflik, mencari celah.
Beberapa manusia mulai menyebutnya Koridor.
Bagi orangutan, itu hanya jalan pulang.
Suatu hari, Laga melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat: seorang ibu orangutan muda menyeberang sambil menggendong anaknya. Geraknya lambat, penuh perhitungan, tapi matanya tenang.
Anak itu memeluk bulu ibunya, tidak menangis.
“Dia percaya,” bisik Laga.
Rimba mengangguk. “Kepercayaan dibangun dari banyak langkah kecil yang tidak runtuh.”
Laga menatap Jalur Akar dengan cara baru. Dulu ia melihatnya sebagai barisan pohon rapuh. Kini ia melihatnya sebagai janji yang dijaga.
Namun hutan tidak pernah bebas dari ujian.
Suatu musim kemarau panjang, api kecil muncul di kejauhan. Asap tipis menyentuh kanopi. Orangutan panik. Burung terbang rendah.
Jalur Akar berada di jalur angin.
Manusia dengan niat pelan datang lagi—lebih cepat dari biasanya. Mereka memadamkan api kecil sebelum membesar. Mereka menjaga area basah. Mereka berjaga malam.
Rimba memperhatikan dan berkata, “Mereka juga menjaga jalur ini.”
“Kenapa?” tanya Laga.
“Karena sekarang jalur ini bukan cuma milik kita,” jawab Rimba. “Ia juga melindungi tanah mereka dari banjir dan panas.”
Laga mulai mengerti. Jalan pulang orangutan ternyata juga jalan keselamatan manusia.
Beberapa tahun kemudian, Jalur Akar bukan lagi barisan pohon muda. Ia menjadi hutan tipis—cukup untuk memberi bayangan, cukup untuk memberi buah, cukup untuk memberi arah.
Orangutan tidak lagi ragu menyeberang. Mereka mengatur rute baru. Ingatan lama diperbarui.
Rimba sudah sangat tua. Ia jarang menyeberang kini. Ia lebih sering duduk di dahan tinggi, mengawasi.
Suatu sore, Laga mendekat.
“Terima kasih,” kata Laga.
Rimba menatapnya. “Untuk apa?”
“Untuk tidak menyerah pada ingatan lama,” jawab Laga.
Rimba tersenyum pelan. “Ingatan bukan untuk disembah. Ingatan untuk dipakai.”
Di kejauhan, manusia dengan niat pelan berdiri melihat kanopi yang kini tersambung. Mereka tidak bersorak. Mereka hanya mencatat dan pulang.
Hutan tidak butuh sorak. Hutan butuh waktu.
Dan waktu, untuk sekali ini, diberi ruang.
Tamat.
Moral:
Ketika jalan lama terputus, rumah tidak harus ditinggalkan. Kadang, rumah hanya menunggu kita cukup sabar menumbuhkan jembatan dari akar.



















